Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

Lutfi Hasan Pernah Ajak Darin ke Malaysia untuk Bulan Madu

Lutfi Hasan Pernah Ajak Darin ke Malaysia untuk Bulan Madu

Berita Nusantara - Kabar kedekatan mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq dengan seorang wanita muda berusia 19 tahun, Darin Mumtazah perlahan mulai terkuak.

Darin selama ini dikenal sebagai seorang pelajar yang diduga terlibat kasus suap dan pencucian uang impor daging dengan tersangka Luthfi Hasan Ishaaq.

Keduanya diketahui pernah pergi bersama ke Malaysia dalam satu pesawat. Menurut data perlintasan di Bandara Soekarno-Hatta yang diterima VIVAnews, keduanya pernah pergi bersama pada 25 Desember 2012 dengan nomor penerbangan MH712.

Kemudian, keduanya kembali ke Jakarta pada 27 Desember 2012, juga satu dalam pesawat dengan nomor penerbangan MH723. 

Saat dikonfirmasi mengenai data perlintasan itu, seorang sumber yang mengetahui informasi tersebut membenarkan. Keduanya berangkat bersama pada 25 Desember 2012 dan kembali ke Jakarta bersamaan pada 27 Desember 2012.

Belum dapat diketahui maksud dan tujuan Luthfi mengajak siswi sekolah menengah kejuruan itu ke Malaysia di pengujung akhir 2012. Namun, santer dikabarkan, Luthfi mengajak Darin bulan madu ke Malaysia.

Pengacara Luthfi, Zainuddin Paru, mengaku belum sempat menanyakan soal kedekatan Luhfti dengan Darin Mumtazah. Begitu juga mengenai informasi yang menyebut keduanya pernah pergi bersama ke Malaysia.

"Kami belum sempat tanya ke beliau. Kami rasa itu sudah di luar substansi hukum, kami konsentrasi pada proses hukum saja," ujar Zainuddin saat dikonfirmasi VIVAnews, Jumat 31 Mei 2013.

Keberadaan Darin hingga kini masih misterius. Bahkan, penyidik KPK sempat menjemput paksa Darin Mumtazah di rumahnya untuk bersaksi di persidangan. Namun, saat disambangi, Darin tidak ada di rumah.

Meski demikian, KPK tetap akan menghadirkan Darin Mumtazah sebagai saksi di persidangan Luthfi Hasan Ishaaq.

Orang Cina Mewakili Partai Islam Se-Malaysia

Orang Cina Mewakili Partai Islam Se-Malaysia
DAP diwakili Melayu Muslim
BERITA NUSANTARA - Partai Islam Se-Malaysia (PAS) mengajukan seorang keturunan Cina non-Muslim sebagai calon anggota parlemen. Ini merupakan salah satu pencalonan lintas etnik dan agama oleh partai politik dalam pemilihan umum Malaysia kali ini.

Calon yang diajukan PAS adalah Hu Pang Chaw untuk daerah pemilihan Ayer Hitam di Johor Baru.

Inilah untuk pertama kalinya PAS mencalonkan anggota parlemen dari kalangan non-Muslim.

"Kami ingin membuktikan bahwa perjuangan PAS adalah suatu perjuangan berlandasaskan Islam yang sebenarnya, yang bisa mengangkat kesejahteraan, keadilan, harmoni dan kebajikan untuk semua," kata Hu Pang Chaw kepada BBC Indonesia.

"Ini membuktikan bahwa tokoh-tokoh non-Muslim dapat diterima untuk mewakili PAS," tambahnya.


Pertanda bagus

Dalam kampanye di daerah pemilihannya Ayer Hitam minggu terahir April lalu, Hu Pang Chaw didampingi rombongan yang terdiri antara lain lima wanita Melayu berjilbab.

Seorang warga Cina di sana, Tang Ah Lok, 63, mengatakan, "Inilah untuk pertama kalinya saya lihat warga Muslim mendukung secara terbuka calon Cina beragama Kristen."

"Ini pertanda bagus dan menunjukkan gelombang baru pemimpin," kata Tang Ah Lok dalam bahasa Mandarin kepada harian the Straits Times.

Hu Pang Chaw sendiri mengatakan selama kampanye, ia juga mendapatkan banyak dukungan dari pemilih Cina.

"Masyarakat Cina telah mengambil contoh apa yang telah dilakukan PAS di Kelantan, bahwa mereka bisa adil kepada semua kelompok," kata Hu lagi kepada BBC Indonesia.

Kelantan merupakan salah satu daerah yang dimenangkan oleh Partai Islam Se-Malaysia ini.

Ketua Pemuda PAS untuk wilayah Kuala Lumpur, Kamaruzaman Mohamad, menyatakan dicalonkannya Hu Pang Chaw merupakan "pertanda bahwa perjuangan PAS walaupun atas nama agama, tetap dapat diterima baik oleh penganut bukan agama Islam."

Hu Pang Chaw saat melakukan kampanye di Ayer Hitam, Johor Baru.

Bukan hanya PAS yang mengajukan calon dari lintas ras dan agama.

Partai Tindakan Demokrasi, DAP -partai sekuler dengan sebagaian besar pemilih warga Malaysia keturunan Cina- memilih Mahdzir Ibrahim sebagai salah satu calon mereka.

DAP dan PAS termasuk bagian dari partai oposisi bersama Partai Keadilan yang tergabung dalam Pakatan Rakyat, kelompok oposisi pimpinan Anwar Ibrahim yang menghadapi koalisi yang memerintah, Barisan Nasional dalam pemilihan umum Malaysia.

Kecenderungan menarik calon dari lintas etnik dan agama ini dilakukan untuk menarik suara dari berbagai kelompok dan agama, kata Ahmad Nidzamuddin Sulaiman, dosen pusat kajian etnik, Fakultas Ilmu Politik, Universiti Kebangsaan Malaysia.


Rentan pecah

"Saya kira hal ini (langkah menarik calon dari kelompok agama dan ras lain) bisa menarik suara (pemilih). Ini bisa terlihat dari dukungan yang diberikan," kata Nidzam kepada BBC Indonesia.

"Misalnya di rumah orang Cina ada bendera PAS dan di kampung Melayu ada bendera DAP. Saya rasa dalam pemilu kali ini, partai-partai itu dapat menarik suara dari berbagai kelompok."

"Mereka mengurangi sentimen etnik demi kerja sama untuk mendapatkan dukungan dari berbagai kelompok," tambah Nidzam.

Tetapi Nidzam menyatakan isu besar seperti agama masih dapat menimbulkan perselisihan di kemudian hari.

"Dalam sejumlah hal seperti budaya dan pendidikan berjalan dengan baik kerjasama selama ini, namun isu agama, seperti pemerintahan dengan hukum Islam yang diangkap PAS dapat menjadi sumber perselisihan PAS dengan DAP misalnya," kata Nidzam.

Nidzam mengatakan terbaginya masyarakat Malaysia dari sisi etnik, budaya dan agama yang tercermin dari sisi politik masih tetap akan sulit untuk dihapus terutama di kalangan akar rumput.

"Di kalangan masyarakat awam, (terbaginya masyarakat) tidak semudah itu dihilangkan. Sentimen tetap ada."

"Jadi bila ada satu kasus, tidak mengherankan suatu saat nanti akan meletup (pecah) lagi ketegangan antar etnis lagi," kata Nidzam.

Irjen Djoko Susilo Membanta Terima Uang dari Budi Santoso

Irjen Djoko Susilo Membanta Terima Uang dari Budi Santoso
BERITA NUSANTARA, Jakarta - Bendahara Satker Korlantas, Kompol Legimo, mengaku pernah dititipi kardus berisi uang dari pengusaha Budi Susanto yang diperuntukkan bagi Irjen Djoko Susilo. Si mantan Kakorlantas membantah pengakuan itu. 

"Berkaitan dengan pemberian dari Budi Susanto, saya tidak pernah menerima pemberian dari Budi ataupun yang dikatakan koordinir tersebut," kata Irjen Djoki di PN Tipikor, Jl Rasuna Said, Jaksel, Jumat (31/5/2013).

Menurut Djoko, pernyataan Legimo cukup janggal. "Ngapain saya meminta Budi Susanto, staf saya kan juga cukup banyak," kata Djoko.

Di dalam kesaksiannya, Legimo mengaku pernah menerima beberapa kardus penuh berisi uang dari Budi Susanto pada Maret dan April 2011. Kardus itu lantas diserahkan kepada Irjen Djoko Susilo yang menjabat Kakorlantas Mabes Polri.

Pengakuan ini Legimo sampaikan dalam kesaksiannya di PN Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Jumat (31/5/2013). Sebelumnya dia menyatakan beberapa kali diperintahkan Irjen Djoko untuk menerima uang dari Budi Susanto, di antaranya pada Maret dan April 2011.

"Uang diantarkan oleh orangnya Budi Susanto, namanya Wahyudi. Pernah saya menerima uang dalam empat kardus besar pada Maret 2011," kata Legimo.

Legimo tidak mengetahui berapa uang yang ada di dalam kardus tersebut. Uang tersebut diserahkan oleh Wahyudi pada pagi hari.

Lantas pada malam harinya, Irjen Djoko menemui Legimo untuk mengambil uang itu. Saat itu Irjen Djoko datang bersama asisten pribadinya Benita Pratiwi.

"Uang diambil dan dimasukkan ke dalam mobil. Ada dua mobil. Mobil Pak Kakor (Irjen Djoko) dan mobil asprinya," kata Legimo.

Selain uang itu, ada juga penyerahan uang dalam kardus lainnya pada April 2011. Uang juga diserahkan oleh Wahyudi, staf Budi Susanto, pemilik PT CMMA.

"Kalau yang April itu, Wahyudi bilang jumlahnya Rp 4 miliar," kata Legimo.

Kamis, 30 Mei 2013

KPK Salah artikan soal "Giving Back!" di Bas Jokowi

KPK Salah artikan soal "Giving Back!" di Bas Jokowi

JAKARTA, BERITA NUSANTARA — Jonathan Liu, pria yang memberikan bas bertanda tangan Robert Trujillo, bassist band Metallica, kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku kecewa terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut Jonathan, KPK salah mengartikan kata yang tertera di badan bas merek Ibanez itu.

Kepada Kompas.com, Kamis (30/5/2013) siang, Jonathan mengatakan bahwa kalimat "Giving back! To Jokowi Keep Playin that Cool Funky Bass" di dekat tanda tangan Trujillo adalah tulisan dari Shenkar, pemilik asli bas tersebut. Kata-kata itu bermakna apa yang diterima oleh manusia harus dikembalikan lagi kepada pihak yang membutuhkan, contohnya rakyat miskin.

"Manusia yang mampu harus memberi kembali ke masyarakat. Itu pesan juga buat Jokowi bahwa dia harus memberi ke rakyatnya juga," ujarnya.

Kata-kata "Giving back", ujar Jonathan, bukan berarti dirinya, Shenkar, atau bahkan Trujillo mengharapkan Jokowi membalas jasa terhadap pemberian bas berwarna merah hati itu. Jonathan, yang pernah menjadi warga negara Indonesia dan sudah 35 tahun menjadi warga negara Amerika Serikat, tersebut mengatakan bahwa kalimat itu juga merupakan slogan salah satu gerakan sosial kemanusiaan yang tengah dikerjakannya bersama puluhan aktor di AS.

"Saya dan Shenkar itu punya proyek sosial. Ada amal sedekah kepada yang membutuhkan. Semisal, anak kecil yang dijadikan pekerja seks komersial di beberapa negara, arah kita ke sana," ujarnya.

Meski setuju dengan pernyataan KPK bahwa pejabat tidak boleh menerima barang, Jonathan menyayangkan sikap KPK yang menyita bas tersebut dan menetapkannya sebagai milik negara. "Jokowi juga benar jika ada barang diserahkan dulu, tapi proporsional-lah. Itu kan hanya cendera mata," katanya.

Jonathan mengaku telah berkirim surat kepada KPK untuk mengembalikan bas tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, Jonathan belum menerima balasan dari lembaga antikorupsi tersebut. Ia akan tetap menunggu balasan hingga mendapat penjelasan langsung dari KPK.

Jokowi mendapatkan sebuah bas merek Ibanez bertanda tangan Robert Trujillo, yang diberikan oleh Jonathan kepada Jokowi di Balaikota Jakarta. Pemberian bas tersebut diumumkan Jokowi pada 3 Mei 2013. Direktur Gratifikasi KPK Giri Supradiyono menyebutkan, pemberian bas tersebut mengandung unsur kepentingan yang sarat dengan praktik gratifikasi. Tulisan "Giving back" di bas diartikan oleh KPK sebagai harapan balas jasa dari Gubernur DKI. KPK menyita bas tersebut dan mengembalikan foto Trujillo bersama bas itu kepada Jokowi.